Jakarta, Baperone — Front Mahasiswa Maluku Utara Jabodetabek menggelar aksi unjuk rasa di depan Mabes Polri dan Istana Negara, menuntut pengusutan tuntas kasus pembunuhan seorang petani di kebun wilayah Bobane Jaya, Kecamatan Patani Barat, yang terjadi pada 2 April 2026.
Dalam aksi , massa menyuarakan kekecewaan terhadap kinerja aparat penegak hukum di Maluku Utara yang dinilai gagal mengungkap rentetan kasus kekerasan di wilayah Halmahera Tengah dan Halmahera Timur.
Koordinator lapangan, Supriyadi, menegaskan bahwa kasus pembunuhan di Halteng dan Haltim sudah seharusnya menjadi perhatian serius institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia.
“Kasus pembunuhan Halteng dan Haltim sudah seharusnya menjadi atensi Polri, agar segera membentuk tim khusus dalam mengungkap dalang di balik kematian di hutan Halmahera,” ujar Supriyadi,Kemarin,Rabu(22/4/2026).
Ia juga menilai Polda Maluku Utara terkesan tidak memiliki keseriusan dalam mengungkap pelaku pembunuhan tersebut.
“Sejauh ini yang kami lihat, Polda Maluku Utara tidak punya upaya serius dalam mengungkap pelaku di balik kematian petani di kebun Bobane Jaya pada 2 April lalu,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia memastikan bahwa gerakan mahasiswa tidak akan berhenti sampai aparat kepolisian mampu mengungkap pelaku dan motif di balik serangkaian pembunuhan di kawasan hutan Halmahera.
“Masalah ini akan terus kami kawal sampai ada titik terang dan pihak kepolisian dapat mengungkap pelaku serta motif di balik pembunuhan di hutan Haltim–Halteng,” tambahnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga membawa sejumlah tuntutan kepada negara, di antaranya:
•Mendesak Kapolri mencopot Kapolda Maluku Utara, Kapolres Halmahera Tengah, dan Kapolres Halmahera Timur.
•Menuntut pengusutan tuntas pembunuhan di wilayah hutan Halmahera Tengah dan Halmahera Timur.
•Mendesak Mabes Polri membangun Polsek di seluruh kecamatan di wilayah Patani.
•Meminta aparat TNI–Polri membersihkan kawasan hutan dari pelaku tak dikenal (OTK).
•Mendesak penempatan personel keamanan di wilayah rawan konflik di Halteng dan Haltim.
•Mendesak Prabowo Subianto untuk memerintahkan Kapolri menuntaskan kasus pembunuhan berantai yang dinilai belum terungkap.
Aksi yang dilakukan Mahasiswa menjadi sinyal kuat meningkatnya tekanan publik terhadap aparat penegak hukum, sekaligus menegaskan bahwa kasus kekerasan di wilayah Halmahera tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan lokal semata, melainkan isu serius yang menuntut perhatian nasional.(*)

Tinggalkan Balasan