Ternate — Hiri Fest 2026 menghadirkan dialog bertajuk Reveal Guest Star yang mengupas potensi wisata Pulau Hiri dari berbagai perspektif, mulai dari geologi, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, hingga perencanaan kawasan. Tiga narasumber yang hadir yakni Dr. Ir. Yanny, S.T., M.T., Zandry Aldrin, dan Ir. Arifandy Mario Mamonto Manopo. Minggu, (2/8/2026).
Dalam pemaparannya, Dr. Ir. Yanny, S.T., M.T. menjelaskan bahwa Pulau Hiri memiliki nilai geologi yang istimewa dan menjadi bagian penting dalam usulan Geopark Maluku Utara. Dari 19 geosite yang diusulkan, dua di antaranya berada di Pulau Hiri.
“Di geologi, geosite yang diusulkan menjadi geopark, dua di antara 19 geosite itu ada di Pulau Hiri. Pulau Hiri memiliki keunikan yang tidak bisa dijumpai di pulau mana pun karena terbentuk melalui aktivitas geologi yang sangat kompleks,” ujarnya.
Menurut Yanny, Maluku Utara berada pada pertemuan empat lempeng besar, yakni Lempeng Eurasia, Pasifik, Australia, dan Filipina. Interaksi lempeng tersebut menciptakan fenomena subduksi ganda di Laut Maluku yang disebut sebagai satu-satunya di dunia.
“Penunjaman di sisi timur oleh Halmahera dan di sisi barat oleh Sangihe menghasilkan magma di bawah permukaan yang kemudian membentuk jalur gunung api. Karena itulah kita menjumpai deretan Pulau Moti, Mare, Tidore, Ternate, hingga Hiri yang berada pada satu kelurusan struktur geologi,” katanya.

Ia menambahkan, dua geosite unggulan di Pulau Hiri adalah Tomajiko dan Gurabala. Kawasan tersebut menyimpan jejak erupsi purba yang membentuk endapan vulkanik dengan karakter berbeda dibanding daerah lain.
“Di tempat lain umumnya ditemukan endapan karang, tetapi di Hiri terbentuk endapan dari material vulkanik. Berdasarkan laporan Global Volcanism Program, erupsi terjadi sekitar 12 ribu tahun lalu yang membentuk tubuh Pulau Hiri. Material tersebut kemudian mengalami pelapukan dan menghasilkan tanah andosol yang sangat subur. Karena itu, tanaman seperti cengkeh dan pala tumbuh sangat baik di wilayah ini,” jelasnya.
Sementara itu, Zandry Aldrin, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata Pulau Hiri. Menurut dia, pembangunan destinasi tidak hanya bertumpu pada infrastruktur, tetapi juga pada aset sosial dan budaya yang dimiliki masyarakat.
“Apa yang bisa dilakukan warga lokal, apa yang bisa dilakukan teman-teman UGM, dan bagaimana komunitas di Ternate dapat berkolaborasi di Hiri, itu yang penting, Sejak 2017 kami pernah menggelar kegiatan fotografi di Pulau Hiri dan belakangan bersama komunitas Tomajiko mulai merancang master plan sebagai pegangan untuk menjaga keberlanjutan gerakan komunitas,” ujarnya.
Zandry mengatakan, Pulau Hiri memiliki banyak aset yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
“Aset itu bukan hanya infrastruktur. Bahasa Ternate, keramahan masyarakat, potensi wisata, UMKM, sejarah, hingga cerita lokal, semuanya adalah aset yang dimiliki Pulau Hiri.” ungkapnya
Dalam sesi dialog, ia juga menegaskan bahwa pengembangan wisata perlu dikemas dalam bentuk paket wisata yang menawarkan pengalaman menyeluruh.
“Pertanyaannya, aktivasi Hiri punya apa? Selain geopark, kita harus mampu menyusun paket wisata yang menghubungkan potensi alam, budaya, sejarah, hingga aktivitas masyarakat sehingga menjadi pengalaman yang utuh bagi wisatawan,” katanya.
Menurut Zandry, pariwisata sejatinya merupakan hasil dari identitas yang berhasil dijaga oleh masyarakat.
“Pariwisata itu sebenarnya anak kandung dari identitas. Kalau identitas dan keramahan masyarakat tetap terjaga, maka pariwisata akan datang sebagai bonus. Potensi itu akan menjadi peluang apabila dibangun melalui kerja sama dan kolaborasi.”
Adapun Ir. Arifandy Mario Mamonto Manopo menilai keberhasilan pengembangan Pulau Hiri memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, Ia menyebut konsep pengembangan kawasan harus dikerjakan secara bertahap dan berkelanjutan.
“Harus ada pemangku kepentingan dari semua unsur Pulau Hiri. Kami hanya menyodorkan konsepnya. Riset satu tahun tidak cukup, minimal dua tahun agar menghasilkan perencanaan yang matang,” ujarnya.
Menutup diskusi, Dr. Yanny menyampaikan bahwa hasil kajian mengenai Pulau Hiri tidak boleh berhenti sebagai bahan diskusi akademik semata, tetapi harus menjadi karya yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami sebagai akademisi. Tidak hanya berhenti pada cerita, tetapi harus menjadi sebuah karya. Kami berkomitmen menyusunnya dalam bentuk buku yang nantinya dapat menjadi muatan lokal. Namun, semua itu harus melibatkan seluruh pihak karena kecintaan terhadap alam ini merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.
Dialog Hiri Fest 2026 memperlihatkan bahwa masa depan Pulau Hiri tidak hanya bergantung pada kekayaan geologi yang dimilikinya, tetapi juga pada kemampuan masyarakat, akademisi, pemerintah, dan komunitas untuk berkolaborasi menjaga identitas, mengelola aset lokal, serta mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan.(*)

Tinggalkan Balasan