Oleh: Fitriyani Ashar
Kaderisasi merupakan fondasi utama keberlanjutan sebuah ideologi. Dalam konteks Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pendidikan Khusus IMMawati (Diksuswati) menempati posisi yang sangat strategis, bukan sekadar jenjang formalitas organisasi, melainkan ruang pembentukan kepemimpinan perempuan, penguatan perspektif, serta kritis IMMawati untuk merespons realitas zaman saat ini.
Namun, di tengah pergeseran lanskap sosial, gerakan perempuan hari ini dihadapkan pada tantangan yang kian kompleks. Mulai dari menguatnya kekerasan berbasis gender, ketimpangan akses ekonomi politik, hingga domestikasi peran perempuan di ruang publik. Realitas ini menuntut Diksuswati tidak boleh mandek pada aspek seremonial belaka, melainkan harus mampu melahirkan aktor gerakan yang peka terhadap ketidakadilan sosial.
Dekonstruksi Domestikasi Gerakan
Dalam perspektif Paulo Freire, pendidikan yang membebaskan harus melahirkan critical consciousness (kesadaran kritis) sebuah kemampuan untuk membaca realitas, mengkritisinya, dan melakukan tindakan transformatif.
Ukuran keberhasilan forum nasional ini tidak boleh lagi terjebak sekedar membuat program kerja.Indikator sejatinya adalah sejauh mana proses di dalamnya mampu memicu keberanian moral kader perempuan untuk bersuara dan meruntuhkan sekat-sekat patriarki yang sering kali masih menyelubungi ruang instruksional organisasi.
Sebagai forum yang mempertemukan IMMawati dari berbagai penjuru tanah air, Diksuswati membawa modal sosial yang luar biasa. Setiap utusan hadir membawa potret ekologis dan sosial yang berbeda, mulai dari persoalan perempuan sampai pada isu-isu lokal lainnya, Maka, Diksuswati semestinya berfungsi sebagai laboratorium sintesis, bukan ruang indoktrinasi satu arah. Forum ini harus menjadi tempat di mana ragam pengalaman empiris kaum perempuan di akar rumput dinalisis secara teoretis demi merumuskan arah gerakan IMMawati yang solid di tingkat nasional sampai ke daerah masing-masing.
Menghidupkan Emansipasi Profetik
Dalam tradisi intelektual, kritik terhadap arah gerakan perempuan bukanlah upaya melemahkan persatuan, melainkan mekanisme evaluasi demi menjaga relevansi. Pertanyaan mendasar yang harus diajukan adalah Apakah Diksuswati selama ini telah melahirkan kader perempuan yang berani menginterupsi ketidakadilan, atau justru sekadar mereproduksi budaya kepatuhan?
Pandangan Kuntowijoyo mengenai Ilmu Sosial Profetik (ISP) memberikan pijakan kuat bahwa ilmu pengetahuan harus mengandung nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi. Bagi gerakan IMMawati, nalar profetik ini mengonfirmasi bahwa teologi Islam adalah teologi pembebasan perempuan.
Kaderisasi perempuan harus melahirkan sosok yang tidak gagap melihat ketimpangan, serta mampu menjadikan nilai Islam sebagai instrumen membela hak-hak kaum tertindas (mustad’afin). Jika kaderisasi perempuan hanya berorientasi pada transfer pengetahuan teks tanpa menyentuh empati sosial, maka gerakan IMMawati akan kehilangan ruh profetiknya dan terjebak dalam romantisme sejarah semata.
Senada dengan itu, pesan Ahmad Syafii Maarif mengenai integritas dan independensi gerakan mahasiswa sangat relevan untuk diadopsi oleh gerakan perempuan. Kepemimpinan perempuan akan kehilangan daya dobraknya jika terjebak dalam budaya kepatuhan birokratis struktur organisasi yang kaku. Ruh gerakan IMMawati terletak pada independensi berpikir dan keberanian menyampaikan argumentasi ilmiah.
Reorientasi Masa Depan IMMawati
Sudah saatnya Diksuswati dipandang sebagai ruang reorientasi bersama. Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa gerakan IMMawati tetap setia pada khittah Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang menghargai otoritas intelektual perempuan dan menjunjung tinggi kesetaraan.
Keberhasilannya diuji ketika para Pesertanya kembali ke daerah masing-masing Apakah mereka mampu menghidupkan tradisi intelektual, mengorganisasi gerakan perempuan di akar rumput, dan menjadi benteng bagi hak-hak perempuan yang terancam?
Sebab, kaderisasi yang berhasil tidak sekadar melahirkan pengurus baru yang patuh pada struktur, melainkan melahirkan pemikir dan penggerak perempuan yang konsisten mengawal perubahan sosial.(*)
Artikel Ini ditulis Langsung Oleh Fitriyani Ashar, Ia juga merupakan Sekretaris Umum DPD IMM Maluku Utara.

Tinggalkan Balasan