Oleh:Saputra Ridholah,Mahasiswa
Hukum Tata Negara IAIN Ternate


Sedari awal kita sadar, banyak dari kita hidup seolah-olah sedang mengikuti sebuah perlombaan. Kita berlari mengejar IPK tertinggi, pekerjaan paling prestisius, gaji terbesar, pencapaian tercepat, hingga kehidupan yang tampak paling ideal. Anehnya, tidak pernah ada formulir pendaftaran yang kita isi. Tidak pernah ada garis start yang jelas. Namun kita tetap merasa tertinggal jika tidak bergerak secepat orang lain.

Sejak itulah kita seolah olah diperkenalkan bahwa standar keberhasilan itu ketika kita berseragam, lulus tepat waktu, pekerjaan dengan gaji yang banyak, sukses di umur yang sangat muda, memiliki mobil, punya rumah yang besar dan lain pencapaian sebagainya. Standar standar keberhasilan yang entah dari mana kita mempercayainya, lama-lama seolah menjadi tolak ukur, yang dimana ketika hidup kita tidak sejalan dengan standar tersebut kita seolah olah merasa cemas, seolah olah merasa kalah dalam sebuah kompetisi yang tidak pernah kita setujui.

Hal tersebut makin di dukung dengan hadirnya sosial media, dimana sosmed seolah olah mempercepat kompetisi tersebut, dengan ketidaksengajaannya yang memperlihatkan kita berbagai bentuk kesuksesan orang lain, apalah, Tanpa sadar, kita mulai membandingkan proses panjang hidup kita dengan hasil akhir orang lain yang di tampilkan oleh sosial media. Kita lupa bahwa yang terlihat hanyalah cuplikan terbaik, bukan keseluruhan cerita.

Akibatnya, banyak dari kita yang hidup dalam keadaan yang terburu buru, Pilihan yang diambil bukan karena keyakinan, tetapi karena tekanan. Kesempatan yang ada bukan di terima karena minat, tetapi karena takut tertinggal dan mau sama dengan orang lain. Sehingga suatu pekerjaan yang sebenarnya tidak kita kuasai tetapi karena kita takut tertinggal menjadi bukti kegagalan dalam berpikir bagi kita. Karena yang hanya kita pikirkan (yang penting tidak diam dan tidak terlihat kalah dan tertinggal).

Padahal, tidak semua orang memiliki titik awal yang sama. Ada yang lahir dengan akses dan dukungan lebih besar, ada yang harus berjuang dari kondisi yang terbatas. Ada yang menemukan kelebihannya sejak dini, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali dirinya sendiri. Hidup bukan persoalan siapa yang sampai atau finish duluan, Ia lebih menyerupai perjalanan dengan rute yang berbeda-beda. Sehingga seharusnya kita tidak perlu memikirkan finishnya orang lain seharusnya.

Karena sejatinya “keberanian yang besar itu bukan persoalan seberapa cepat lari kita dari orang lain, melainkan ketika kita berani memperlambat langkah.Mengakui bahwa kita lelah,Mengakui bahwa kita butuh waktu,Mengakui bahwa tidak semua standar harus kita penuhi.

Yaaa,karena balik lagi ini bukan sebuah perlombaan melainkan perjalanan hidup yang berbeda beda. Kalau kata Gol D. Roger dalam anime one piece kalau “semua orang itu memiliki gilirannya masing masing, bersabar dan tunggulah”.

Mungkin kita tidak pernah benar-benar mendaftar untuk perlombaan ini. Maka tidak ada kewajiban untuk terus berlari tanpa henti,Hidup bukan tentang siapa yang paling dulu sampai, melainkan tentang apakah kita sampai di tempat yang memang ingin kita tuju. Dan terkadang, untuk mengetahui itu, kita hanya perlu berhenti sejenak.