Oleh: Faisal Gani | Ketua HMI Komsat Syariah IAIN Ternate Periode 2026-2027

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar nama organisasi yang lahir tanpa kesadaran historis. Ia adalah simbol perjuangan, identitas intelektual, sekaligus laboratorium kader bangsa. Namun pertanyaannya hari ini sederhana sekaligus menggelisahkan: masihkah HMI berdiri sebagai rumah pengkaderan, atau perlahan berubah menjadi monumen romantisme masa lalu?

Sejak dideklarasikan pada 5 Februari 1947, HMI memanggul dua komitmen asasi sebagaimana tertuang dalam Pasal 4 AD/ART. Komitmen itu bukan hanya janji organisatoris, melainkan sumpah peradaban. HMI lahir dalam situasi bangsa yang genting, ditempa oleh konflik, bahkan dipaksa melewati delapan fase konsolidasi demi mempertahankan eksistensinya. Kader-kadernya tidak hanya berpikir—mereka turun ke gelanggang perjuangan. Pembentukan Korps Mahasiswa menjadi bukti bahwa intelektualitas HMI tidak pernah steril dari keberanian. Tidak berlebihan jika HMI dijuluki sebagai Harapan Masyarakat Indonesia.

Namun sejarah besar selalu membawa bahaya laten: terlena oleh kebesaran masa lalu.

HMI telah melahirkan generasi intelektual-pejuang dan intelektual-profesional yang mengisi berbagai ruang strategis bangsa. Ironisnya, derasnya arus regenerasi justru berpotensi mengikis independensi salah satu mahkota paling berharga yang pernah dimiliki organisasi ini. Ketika independensi melemah, HMI tidak lagi menjadi penuntun arah, melainkan mudah terseret arus kepentingan.

Di titik inilah pertanyaan mendasar harus diajukan tanpa kompromi: apa sebenarnya hakikat HMI hari ini?
Apakah ia masih kawah candradimuka bagi pemikir muda, atau hanya berubah menjadi organisasi seremonial yang pandai merayakan milad tetapi gagap membaca zaman?

Realitas mutakhir menunjukkan gejala yang sulit dibantah fungsi pengkaderan kian terpinggirkan. Kaderisasi yang dahulu sakral, mengguncang cara berpikir, dan membangun keberanian intelektual, kini berisiko tereduksi menjadi rutinitas administratif. Jika pengkaderan tidak lagi membongkar paradigma, merekonstruksi nalar kritis, dan memperkaya khazanah pengetahuan, maka HMI sedang berjalan menuju krisis relevansi.

Organisasi sebesar HMI tidak boleh puas hanya dengan reproduksi anggota; ia harus menciptakan manusia-manusia ideologis. Tanpa itu, HMI hanya akan menjadi tempat singgah, bukan tempat ditempa.

Momentum Milad ke-79 seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan nostalgia. Ini adalah alarm keras untuk bermuhasabah. HMI harus berani melakukan otokritik menilai dirinya secara jujur, bukan defensif. Adaptasi terhadap perubahan sosial bukan pilihan, melainkan syarat bertahan hidup. Organisasi yang gagal membaca masa depan hanya akan dikenang sebagai catatan kaki sejarah.

HMI membutuhkan lebih dari sekadar kader yang loyal; ia membutuhkan kader yang gelisah, kritis, dan berani menggugat kemapanan bahkan jika yang digugat adalah organisasinya sendiri.

Jika HMI ingin tetap menjadi “pohon kebaikan”, maka akarnya harus terus diperkuat oleh nilai, batangnya ditegakkan oleh independensi, dan buahnya harus nyata dirasakan oleh rakyat serta umat Islam. Tanpa itu, julukan Harapan Masyarakat Indonesia berisiko berubah menjadi ironi.

Kini pilihannya tegas: menjadi pelaku sejarah atau sekadar pengingat bahwa kita pernah besar. (*)