Ternate, Pulau Hiri, baperone — Ucapan yang dianggap candaan oleh orang dewasa dapat berdampak serius bagi kondisi psikologis anak. Hal inilah yang dialami dua bocah asal Kelurahan Mado, Pulau Hiri, setelah mendengar kalimat bernada kekerasan dari seorang pria tak dikenal di sebuah kios di Kelurahan Togolobe.
Korban diketahui bernama M. Fahratul Alfarid dan M. Arafa Feri, masing-masing berusia 8 tahun. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIT, Minggu 8 Februari 2026, di kios milik Sarifa Tebe, Kelurahan Togolobe.
Menurut keterangan keluarga, peristiwa bermula saat kedua anak selesai berbelanja dan bersiap pulang ke rumah. Dalam situasi yang awalnya normal, tiba-tiba seorang pria yang tidak dikenal setelah berbelanja melontarkan ucapan:
“Ade di sini ada jual kepala dimana ya.”
Kalimat tersebut mungkin terdengar sebagai gurauan bagi orang dewasa, namun bagi anak-anak yang secara psikologis masih berada pada fase rentan, ucapan itu ditangkap sebagai ancaman serius. Seketika, kedua anak mengalami ketakutan hebat, tubuh gemetar, wajah pucat, dan langsung berlari pulang tanpa menoleh ke belakang.
Fitriyani Tinamba, pihak keluarga korban, mengungkapkan bahwa perubahan perilaku anak terlihat jelas sejak kejadian tersebut.
“Anak-anak berlari pulang dalam kondisi ngos-ngosan. Wajah ponakan saya pucat, nafsu makannya berkurang, dan tiba-tiba menangis karena ketakutan. Bahkan kebiasaan ibadahnya yang biasanya rutin, sekarang mulai berubah,” ujar Fitriyani kepada Wartawan,(8/2/2026)
Ia menambahkan, pascakejadian, kedua anak kerap termenung, mudah terkejut, dan menunjukkan ketakutan berlebihan. Ingatan tentang peristiwa itu terus muncul dalam pikiran mereka.
“Sejak hari itu, wajah anak sering terlihat murung dan seperti terus mengingat kejadian tersebut. Dia bukan lagi anak yang sama seperti sebelumnya,” katanya dengan nada terbata-bata
Fitriyani menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi peringatan serius bagi masyarakat agar tidak sembarangan melontarkan ucapan, terutama kepada anak-anak.
“Candaan seperti ini bisa menimbulkan ketakutan mendalam. Trauma pada anak tidak selalu langsung terlihat, tapi bisa muncul kembali ketika mereka tumbuh dewasa,” jelasnya.
Ia menilai, meskipun tidak disertai tindakan fisik, ucapan bernuansa kekerasan sudah cukup untuk mengganggu perkembangan mental dan rasa aman anak.
“Setidaknya bercanda jangan berlebihan karena Anak-anak bukan orang dewasa. Mereka menangkap kata-kata dengan perasaan, bukan dengan logika,” tegas Fitriyani.
Keluarga korban berharap pihak kelurahan, tokoh masyarakat, serta pemilik kios di Kelurahan Togolobe dapat membantu menelusuri identitas pelaku dan memberikan klarifikasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kekerasan verbal sekecil apa pun dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Ucapan yang dianggap bercanda bisa berubah menjadi trauma berkepanjangan bagi anak-anak, jika tidak disampaikan dengan empati dan tanggung jawab.

Tinggalkan Balasan