Ternate,Baperone — Generasi Muda Sultan Baabullah (GEMUSBA) kembali menggelar forum diskusi bertajuk Baabullah Talk – Episode III dengan tema “Konfigurasi Iran dan Moloku Kie Raha dalam Eskalasi Perlawanan Melawan Kolonialisme.

Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat (27/3/2026) Kemarin,pukul 21.00 WIT dan diikuti oleh anggota GEMUSBA serta peserta umum dari berbagai kalangan.

Diskusi menghadirkan aktivis geopolitik Qenan Rohullah sebagai narasumber. Ia juga merupakan anggota GEMUSBA pada bidang kolaborasi, kemitraan, dan kelembagaan. Sementara jalannya diskusi dipandu oleh Wakil Ketua II GEMUSBA, Rian Momole.

Perlawanan Kolonialisme sebagai Gerakan Peradaban

Dalam pengantar kegiatan,host Rian Momole menegaskan bahwa sejarah perlawanan terhadap kolonialisme tidak hanya terjadi dalam konteks lokal, melainkan merupakan bagian dari gerakan peradaban yang lebih luas, khususnya di dunia Islam.

Sejarah mencatat bahwa Sultan Baabullah dari Kesultanan Ternate berhasil mengusir Portugis dari Maluku pada abad ke-16 setelah melanjutkan perjuangan ayahnya, Sultan Khairun. Peristiwa tersebut menjadi salah satu simbol keberhasilan kekuatan lokal melawan kolonialisme Eropa di Nusantara.

Di sisi lain, dalam konteks modern, Iran melalui dinamika revolusi dan kebijakan geopolitiknya juga sering dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi kekuatan global. Forum ini mencoba menjawab pertanyaan penting mengenai bagaimana keterkaitan spirit perlawanan Iran dan Moloku Kie Raha dalam perspektif geopolitik dan sejarah peradaban.

Geopolitik Global dan Perebutan Kawasan Strategis

https://baperone.com

Qenan Rohullah Dalam pemaparannya, menjelaskan bahwa konflik global pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari perebutan wilayah strategis dan sumber daya alam.Ia menyoroti posisi Iran sebagai salah satu aktor penting dalam geopolitik dunia.

Menurutnya, posisi Iran sangat strategis karena berada di jalur perdagangan energi global, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia, serta keterkaitannya dengan wilayah Terusan Suez hingga kawasan Laut Merah.

“Konflik geopolitik pada dasarnya adalah perebutan kendali atas jalur ekonomi dunia dan sumber daya strategis,” jelas Qenan dalam Forum Diskusi Daring

Ia juga menyinggung peristiwa global yang sempat mengguncang jalur perdagangan dunia, yakni insiden kapal Ever Given yang sempat menyumbat Terusan Suez dan menyebabkan terganggunya distribusi logistik internasional.

Moloku Kie Raha dan Warisan Perlawanan

Lebih lanjut, Qenan mengaitkan dinamika geopolitik Iran dengan sejarah Moloku Kie Raha, yang pada abad ke-14 hingga ke-15 dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia.

Posisi strategis Maluku saat itu menjadikannya wilayah yang diperebutkan oleh berbagai kekuatan kolonial Eropa.

Menurutnya, perlawanan yang dipimpin Sultan Baabullah menjadi simbol kekuatan lokal dalam menghadapi dominasi asing.

“Jika rempah dikunci pada masa itu, dunia akan bergejolak. Ini serupa dengan bagaimana Iran memainkan Selat Hormuz sebagai instrumen geopolitik saat ini,” ungkapnya.

Paralel Sejarah dan Aktor Perlawanan

Diskusi tersebut juga menyoroti kesamaan pola sejarah antara perjuangan di Moloku Kie Raha dengan dinamika geopolitik Iran. Qenan menjelaskan bahwa Sultan Baabullah melanjutkan perjuangan ayahnya, Sultan Khairun, yang gugur akibat pengkhianatan kolonial Portugis.

Pola kesinambungan perjuangan lintas generasi tersebut, menurutnya, juga dapat ditemukan dalam dinamika kepemimpinan politik di Iran yang terus mengusung semangat perlawanan terhadap intervensi kekuatan global.

Melalui forum diskusi ini, GEMUSBA berharap generasi muda semakin memahami pentingnya sejarah, geopolitik, serta identitas peradaban dalam membaca dinamika dunia saat ini.

Kegiatan Baabullah Talk diharapkan menjadi ruang intelektual bagi anak muda Maluku Utara untuk mendiskusikan berbagai isu strategis global dengan tetap berangkat dari perspektif sejarah dan identitas lokal.(*)