Ternate, Maluku Utara — Denting kuali beradu dengan riuh percakapan, Desis tumisan menyelinap di antara kelakar, sementara tawa pecah Tampa aba-aba, Di ruang sederhana itu, pekerjaan terasa lebih ringan ketika dikerjakan bersama, kehangatan semacam inilah yang mulai dihidupkan tari balilian dalam legu Tara No Ate 2026, yang berlangsung di lingkungan Keraton Ternate.
Lewat Sanggar Sabua Seni Ino Madaha, Tari Balilian membawa penonton menyelami tradisi Lilian, praktik gotong royong masyarakat Maluku Utara saat tumbuh dari kebiasaan saling bahu-membahu, Didalamnya, bekerja bukan hanya semata urusan tentang menyelesaikan pekerjaan, kesempatan berbagai cerita, bertukar gurauan, dan merawat persaudaraan.
Safana Yusuf, penari dari Sanggar Sabua Seni Ino Madaha, memaparkan bahwa tarian yang ditampilkan dengan suasana ceria, jenaka, dan penuh kelucuan, Para penari tidak saja mengandalkan gerakan tubuh, lebih dari itu, penari Justru menyusun adegan, jika di resapi tarian tersebut, yakni menggambarkan tingkah atau polah keseharian ibu-ibu berkumpul dalam tradisi lilian.
“Jadi di dalam tariannya torang bukan cuman menari, torang juga ada part-part kayak (seperti) tong (kami) mau bawakan cerita kayak mama-mama saat lilian (tradisi gotong Royong Maluku Utara) dong (Mereka) biasa cerita Carlotta (orang yang suka bergosip, suka ikut campur), Nah, torang di tarian itu ada pakai properti balanga,” ujar Safana saat ditemui Baperone.com setelah tampil, kemarin Malam, (22/10/2026).
Balanga atau wadah memasak ikut memperjelas nuansa dapur, gerak para penari berpadu dengan bagian mumasa (masak) dan wayase, dua unsur yang oleh Safana dikaitkan sebuah momen lilian di Maluku Utara, Rangkaian itu membentuk semacam memori tentang perempuan, pekerjaan, dan kebersamaan yang berkelindan pada ruang tradisi.
Di atas panggung Pentas Seni dan Budaya Legu Tara No Ate 2026, kehidupan sehari-hari berubah menjadi pertunjukan, Tari Balilian seolah membuka kembali pintu dapur tempat banyak cerita bermula, Ada pekerjaan yang mesti diselesaikan, percakapan yang mengalir, serta tawa yang membuat waktu kebersamaan terasa berharga.
Dari ruang keseharian itulah nilai gotong royong menemukan jalannya, sederhana, akrab, dan diwariskan melalui kebiasaan yang kerap terulang, Tarian itu memperlihatkan bagaimana tradisi lokal tersebut dapat disampaikan lewat bahasa tubuh dan seni, tanpa kehilangan kedekatannya dengan kehidupan masyarakat.
Di balik penampilan yang tampak ringan, para penari menjalani persiapan selama kurang lebih satu bulan, Latihan berlangsung pada hari-hari tertentu, terutama Jumat, Sabtu, dan Minggu, mereka menyesuaikan waktu luang.
Proses diatas menjadi bagian dari upaya menerjemahkan cerita keseharian ke dalam bahasa gerak, Setiap adegan perlu menyampaikan suasana, setiap kelakar memiliki waktunya, sementara gerak bersama harus tetap menjaga irama pertunjukan epik.
Kata Safana, kesempatan tampil dalam kegiatan itu, berlangsung di bagian dalam Keraton Ternate menghadirkan kesan tersendiri, Ruang bersejarah memberinya peluang melihat lebih dekat lingkungan keraton yang selama ini jarang ia masuki.
“ini pertamakalinya saya lihat orang buat acara di dalam keraton, Bagus, alhamdulillah bagus kayak torang (kami) bisa melihat keraton lebih di dalam, Karena dulu-dulu kebanyakan jarang orang yang masuk sampai ke dalam begitu,” ujarnya.

Baginya, keraton bukan hanya ruang untuk menyimpan jejak sejarah, namun juga tempat kebudayaan diperkenalkan melalui perjumpaan langsung, Penyelenggaraan pentas seni di lingkungan keraton membuka pengalaman baru bagi pengunjung maupun pelaku seni.
Perhatiannya bahkan tertuju pada foto-foto Sultan ketika dipajang pada bagian depan, Safana melihat keberadaan foto-foto itu sebagai sarana untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Ternate kepada pengunjung dari luar daerah.
“Terus di depan juga ada dipajang foto-foto sultan, Mungkin itu orang-orang dari luar sewaktu ada berkunjung di Ternate, dong (mereka) bisa lihat, dan bisa tahu tong (kami) punya budaya-budaya,” jelasnya.
Meski mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan, Safana mengharapkan acara serupa pada masa mendatang dapat berlangsung lebih meriah, dengan pengaturan waktu lebih tepat, menurunya, pengalaman berkesenian akan semakin bermakna apabila didukung penyelenggaraan yang tertata dengan baik.
“kalau pesan saya sih ke depannya lebih, Mungkin lebih meriah lagi, terus untuk waktunya, dan juga ebih tepat waktu kegiatan mungkin,” ungkapnya.
Tetapi, pesan terpenting dari Safana tertuju kepada generasi muda, Di tengah derasnya pengaruh budaya luar, ia mengingatkan bahwa tradisi daerah tidak seharusnya dibiarkan menjauh dari kehidupan sehari-hari. Warisan budaya membutuhkan keterlibatan generasi penerus agar tidak berhenti sebagai kenangan atau sekadar penampilan di panggung.
“Untuk harapan saya generasi ke depan Jangan lupa tong punya budaya, jangan lupa budaya Maluku Utara. Jangan kasih tinggal, karena kebanyakan sekarang kan sudah terbawa dari budaya-budaya luar,” tutup Safana.
Tari Balilian akhirnya menjadi lebih dari sekedar rangkaian gerak sekaligus mengundang senyum, lewat Pentas Seni dan Budaya Legu Tara No Ate 2026, tarian ini membawa kembali suasana lilian, tempat tangan-tangan bekerja, percakapan bersahutan, dan tawa mengikat hubungan antarmanusia.
Dari dapur sederhana hingga panggung di lingkungan keraton, tradisi demikian dapat menyampaikan pesan bahwa kebudayaan tidak hanya hidup dalam perayaan besar, tetapi juga dalam kebiasaan kecil yang dirawat bersama.
Selama para ibu masih menuturkan, kebersamaan tetap dijaga, dan generasi muda bersedia mengenali akar budayanya, Lilian terus menemukan rumah untuk hidup, ia bukan sekedar warisan masa lalu, akan tetapi denyut kehidupan masyarakat Maluku Utara dengan serempak bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.(*)

Tinggalkan Balasan