Jakarta|Baperone.com — Puluhan massa yang tergabung dalam Asosiasi Pemuda Mahasiswa dan Pelajar Maluku Utara Jabodetabek (APMP-Malut) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor pusat PT Aneka Tambang Tbk pada Senin, 11 Mei 2026. Massa mendesak perusahaan segera menyelesaikan dugaan pencemaran lingkungan di Sungai Kukuba dan pesisir Teluk Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara.
Aksi itu dipicu ketika aktivitas pembangunan infrastruktur pabrik baterai yang dikerjakan anak usaha ANTAM, yakni PT Feni Haltim. Massa menilai proyek tersebut menyebabkan sedimentasi yang mencemari aliran Sungai Kukuba hingga pesisir Teluk Buli pada 2 Mei lalu.
Dalam orasi, penanggung jawab aksi, Selsius Pulotengah, mendesak ANTAM segera menghentikan aktivitas pembangunan di hulu Sungai Kukuba.
“Sebagai bagian dari Badan Usaha Milik Negara, PT Aneka Tambang sudah seharusnya menjunjung tinggi prinsip pembangunan berkelanjutan. Aktivitas pembangunan yang dilakukan PT Feni Haltim di hulu Sungai Kukuba mengakibatkan sedimentasi yang mencemari pesisir Teluk Buli” Ungkapnya, Senin, (11/5/2026)
“Ini menjadi alarm keras bagi ANTAM agar melakukan evaluasi penuh terhadap anak usaha di bawah pengawasannya dan memberikan sanksi tegas,” Tambahnya
Selsius, juga membantah klarifikasi pihak PT Feni Haltim yang sebelumnya menyebut kondisi keruh di Teluk Buli dipengaruhi faktor alam dan tingginya curah hujan.
“Upaya klarifikasi manajemen PT Feni Haltim sangat disayangkan. Mereka terkesan menutupi fakta di lapangan. Beberapa hari kemarin, dari hulu hingga hilir Sungai Kukuba berubah warna akibat lumpur sedimentasi, bukan kali pertama terjadi. Teluk Buli yang selama ini menjadi penopang pangan masyarakat kini membuat nelayan takut melaut akibat pencemaran sedimentasi dari pembangunan infrastruktur pabrik baterai,” ujarnya.
Mereka juga menyoroti sikap pihak ANTAM yang tidak menunjukkan itikad baik untuk menemui demonstran. Perwakilan ANTAM melalui kepala keamanan disebut hanya menyampaikan alasan prosedural terkait permintaan audiensi dengan jajaran manajemen.
Pengurus APMP-Malut, Ilham A Radjaman, membeberkan sikap Perusahaan mencerminkan minimnya empati terhadap masyarakat Teluk Buli yang kena dampak.
“Dalam waktu dekat kami akan membuat laporan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian ESDM terkait masalah pencemaran di Teluk Buli. Ketidakpedulian atas tercemarnya laut dan sungai menjadi indikasi kuat bahwa proyek strategis nasional dibangun tanpa melihat aspek pembangunan berkelanjutan dan hanya untuk kepentingan orang-orang di Jakarta,” kata Ilham.
Aksi demonstrasi dipusatkan di kantor pusat ANTAM dan kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Meski tidak ada komunikasi langsung dari manajemen ANTAM kepada massa aksi, APMP-Malut menyatakan komitmennya untuk terus melanjutkan gerakan hingga ada penyelesaian konkret dan ganti rugi kepada masyarakat terdampak
Massa menyampaikan tuntutan terkait dugaan pencemaran Sungai Kukuba dan pesisir Teluk Buli, sebelum akhirnya membubarkan diri sekitar pukul 13.00 WIB.(*)


Tinggalkan Balasan