Ternate, Baperone.com — Realitas pahit pelayanan kesehatan di Pulau Hiri kembali terkuak. Seorang pasien bernama Laela harus dibonceng pakai sepeda motor saat dirujuk ke Ternate dalam kondisi darurat, tanpa kehadiran ambulans siaga di Puskesmas. Kejadian itu memantik kemarahan keluarga sekaligus mempertegas rapuhnya sistem layanan dasar di wilayah kepulauan,Selasa,(5/5/2026).
Wawan Ilyas, keluarga pasien, menyampaikan kekecewaan atas kondisi pelayanan yang dinilai jauh dari layak. Ia mengungkapkan pasien terpaksa dibonceng menggunakan sepeda motor karena ambulans tidak berada di lokasi.
“Pasien sementara dirujuk ke Ternate. Ambulans tidak stay di Puskesmas, terpaksa harus berboncengan. Dokter juga tidak berkantor, nakes hanya satu orang dan itu pun harus dijemput di rumah. Sudah dua hari dokter tidak berkantor. Ini bukan salah dokter atau nakes, ini sistem yang parah, kepemimpinan yang rusak,” tegas Wawan.
Kritik tidak berhenti di situ. Wawan menilai situasi seperti ini sebagai bentuk nyata pengabaian terhadap keselamatan warga pulau.
“Kalau orang sakit harus dibawa pakai sepeda motor, itu bukan lagi soal keterbatasan, tapi kegagalan total pelayanan. Puskesmas seharusnya jadi tempat pertama menyelamatkan nyawa, bukan sekadar simbol pelayanan. Jangan sampai masyarakat dipaksa bertaruh dengan waktu hanya karena sistem tidak siap,” ujarnya dengan nada geram.
Ia juga menyinggung ketimpangan yang terus terjadi antara wilayah kota dan pulau.
“Di kota semua serba tersedia, ambulans siap, tenaga medis lengkap. Di pulau, masyarakat seperti dibiarkan bertahan sendiri. Ketimpangan ini bukan hal baru, tapi terus dibiarkan tanpa solusi nyata,” tambahnya.
Ironi semakin terasa saat di pintu IGD terpampang nomor kontak tenaga kesehatan dengan tulisan “Hubungi jika ada pasien”. Tulisan itu seakan mempertegas bahwa layanan tidak benar-benar hadir secara langsung, melainkan menunggu panggilan.
Di sisi lain, Kepala Puskesmas Pulau Hiri, Hamid Abdulrahman, memberikan klarifikasi terkait kejadian itu. Ia menjelaskan prosedur tetap berjalan sesuai mekanisme.
“Ada petugas yang dipanggil, itu memang tugas mereka. Setelah konsultasi, salah satu nakes menyampaikan bahwa pasien mengalami stroke ringan. Setelah dikonsultasikan ke dokter, disarankan untuk dirujuk,” jelas Hamid.
Menurutnya, sistem rujukan saat ini menggunakan mekanisme berbasis jaringan dalam satu link, sehingga pasien tidak bisa langsung diberangkatkan tanpa tahapan administrasi dan koordinasi.
“Sistem rujukan sekarang memakai satu link. Setelah itu baru pasien dibawa ke rumah sakit tujuan sesuai arahan. Prosedurnya juga melalui ambulans laut,” ujarnya.
Ia menambahkan kondisi pasien tidak tergolong darurat berat sehingga tidak memicu kepanikan medis. Namun keluarga dinilai terlalu khawatir dan menginginkan percepatan rujukan.
“Gejalanya mengarah ke stroke ringan, tidak terlalu membuat panik. Tapi keluarga ingin cepat, sementara ambulans darat sedang dalam proses penjemputan,” katanya.
Hamid juga mengakui keterbatasan tenaga kesehatan di lapangan. Ia menyebut jadwal kerja sudah diatur, namun kondisi geografis menjadi kendala.
“Ada nakes dan ada jadwal. Tapi bisa saja pasien datang saat sebagian tenaga sudah pulang. Jam pelayanan biasanya pukul 08.00, namun di Hiri sering mulai pukul 09.00 karena banyak nakes tinggal di Ternate. Jam kerja sampai 14.30, setelah itu mereka harus kembali karena keterbatasan transportasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan fasilitas ambulans laut saat ini tidak berfungsi karena mengalami kerusakan dan berada di wilayah Mangga Dua. Operasional ambulans lama pun sudah dihentikan dan dialihkan ke sistem Ambulans BAHIM (Batang Dua, Hiri, Moti) yang kini siaga di Residen.
“Ambulans laut sudah rusak. Sekarang dialihkan ke Ambulans BAHIM yang stay di Residen. Jika ada kondisi gawat darurat, tinggal dilaporkan,” tutup Hamid.
Peristiwa ini bukan sekadar insiden tunggal. Gambaran besar tampak jelas: layanan kesehatan di wilayah kepulauan masih jauh dari kata siap. Ketika akses darurat saja bergantung pada keberuntungan, pertanyaan besar muncul berapa lama lagi kondisi seperti ini akan terus dianggap wajar.(*)


Tinggalkan Balasan