Oleh: Aldi Haris

Akhir-akhir belakangan ini, dinding-dinding media sosial dipenuhi potongan kisah yang sekilas tampak remeh, namun menyimpan luka yang diam-diam mengendap dalam kesadaran kolektif kita. Seorang perempuan menikah: gaun putih terhampar rapi, senyum dipaksakan agar tampak bahagia, keluarga dan kerabat hadir sebagai saksi. Namun di antara para undangan berdiri satu sosok paling sunyi, yakni lelaki yang pernah menjadi kekasihnya. Ia hadir bukan sebagai mempelai, melainkan sebagai tamu undangan dan sebagai penonton dari cinta yang tak pernah sampai ke pelaminan.

Pada mulanya, saya pun menganggap fenomena semacam ini tidak penting untuk ditulis. Terlalu personal, terlalu sentimentil, dan terlampau sering dijadikan bahan konten demi empati palsu di ruang digital. Namun setelah dipikirkan lebih jauh, justru di sanalah letak urgensinya. Ketika kisah serupa terus berulang dan dipertontonkan secara massal, ia berhenti menjadi urusan dua orang. Ia menjelma gejala zaman, potret masyarakat, sekaligus cermin dari cara kita memahami cinta hari ini. Menuliskannya bukan soal ikut arus, melainkan upaya membaca realitas sosial yang sedang kita hidupi bersama.

‎Cinta, dalam pandangan Karl Marx, tidak pernah berdiri di ruang yang sunyi. Marx memang tidak menuliskan teori cinta romantik secara khusus, tetapi seluruh kerangka berpikirnya tentang manusia, relasi sosial, dan kondisi material memberi kita alat untuk memahami bagaimana cinta bekerja di bawah tekanan zaman. Bagi Marx, kesadaran manusia ditentukan oleh kondisi materialnya. Cara manusia mencintai, memilih pasangan, dan membangun keluarga sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia hidup, bekerja, dan bertahan dalam struktur ekonomi tertentu.

Dalam masyarakat kapitalistik, cinta tidak lagi sepenuhnya dimaknai sebagai perjumpaan dua manusia yang saling mengakui kemanusiaannya. Ia perlahan dipersempit menjadi persoalan pengukuhan, kepastian, dan kemampuan memenuhi standar hidup yang ditentukan oleh sistem. Cinta diuji bukan hanya oleh kesetiaan, tetapi juga oleh gaji, pekerjaan tetap, rumah, kendaraan, serta pesta pernikahan yang layak difoto dan dipamerkan. Dalam logika ini, siapa yang paling siap secara ekonomi dianggap paling layak dicintai secara “rasional”. Sementara mereka yang mencintai dengan tulus tetapi tertinggal secara material dipaksa mundur dengan alasan yang terdengar dewasa bahwa belum siap, belum mapan, belum waktunya.

Pada titik inilah cinta kerap kalah, bukan karena ia kurang kuat, melainkan karena berhadapan dengan struktur yang jauh lebih kejam. Lelaki yang hadir sebagai tamu di pernikahan mantan kekasihnya bukan sekadar gambaran ketabahan atau keikhlasan. Ia adalah representasi manusia yang kalah dalam kompetisi sosial yang tidak pernah ia ciptakan. Kekalahannya bukan semata kekalahan perasaan, melainkan kekalahan kelas, kekalahan posisi, dan kekalahan dalam distribusi kesempatan hidup.

‎Marx menyebut kondisi semacam ini sebagai alienasi keterasingan. Manusia terasing dari dirinya sendiri dan dari sesamanya. Dalam relasi cinta, alienasi itu terasa ketika seseorang mencintai, tetapi tidak memiliki kendali atas nasib cintanya. Keputusan untuk bersama atau berpisah tidak sepenuhnya lahir dari kehendak bebas, melainkan dari tekanan ekonomi, tuntutan keluarga, dan norma sosial yang menyanjung kemapanan. Cinta tetap ada, tetapi ia tidak berdaulat, ia terpaksa tunduk pada sesuatu yang berada di luar dirinya.

Pernikahan, yang seharusnya menjadi perayaan cinta, kerap berubah menjadi lembaga sosial yang penuh perhitungan. Dalam masyarakat kapitalistik, pernikahan berfungsi sebagai alat pengukuhan, menyatukan dua individu agar lebih aman secara ekonomi, lebih teratur secara sosial, dan lebih selaras dengan logika produktivitas. Tidak mengherankan jika cinta yang dianggap “tidak menjamin masa depan” perlahan disingkirkan, meskipun lahir dari ketulusan. Yang dikorbankan bukan hanya perasaan, melainkan juga kemanusiaan itu sendiri.

Lebih menyedihkan lagi, masyarakat tidak lagi memandang kekalahan cinta sebagai tragedi sosial, melainkan sebagai tontonan. Kisah-kisah ini dikemas dengan musik sendu, diberi narasi haru, lalu disebarkan untuk dikonsumsi. Dalam bahasa Marx, bahkan kesedihan pun telah menjadi komoditas. Air mata, patah hati, dan pengorbanan dijadikan bahan hiburan, sementara akar masalahnya dibiarkan tetap utuh. Kita menangis sebentar, lalu menggulir layar ke kisah lain seolah penderitaan itu wajar dan tak perlu dipersoalkan.

‎Tulisan ini bukan untuk menyalahkan perempuan yang memilih menikah dengan lelaki lain, atau laki-laki yang terpaksa merelakan. Marx tidak pernah mengajarkan kita untuk menyalahkan individu, melainkan mengkritik struktur yang memaksa manusia mengambil keputusan dalam kondisi yang tidak adil. Banyak cinta gagal bukan karena kurang setia, melainkan karena hidup dijalani dalam sistem yang memaksa manusia memilih antara perasaan dan kelangsungan hidup.

‎Jika cinta hari ini terus-menerus kalah oleh zaman, barangkali persoalannya bukan pada cinta itu sendiri. Yang perlu kita gugat adalah zaman yang membuat manusia takut mencintai tanpa jaminan ekonomi, takut setia tanpa kepastian materi, dan takut memilih perasaan karena dianggap tidak realistis. Dalam masyarakat yang benar-benar manusiawi, cinta tidak seharusnya menjadi kemewahan yang hanya dapat dimiliki oleh mereka yang mapan.

‎Karl Marx pernah menegaskan bahwa tujuan emansipasi, pembebasan manusia adalah membebaskan manusia dari kondisi-kondisi yang merendahkannya. Mungkin, di zaman ini, salah satu bentuk pembebasan itu adalah mengembalikan cinta pada martabatnya sebagai relasi manusia yang utuh, bukan sebagai kontrak sosial yang tunduk pada logika pasar. Sebab jika cinta terus kalah oleh zaman, maka yang sesungguhnya kalah bukan hanya dua insan yang berpisah, melainkan kemanusiaan kita bersama. (*)