(Oleh:Wr Mancinam)

Banyak Prajurit

Dibalik megahnya NEGARA. Jalanan menagih nyali juga berseru lantang: “Kau anak siapa? Pulanglah! Arena ini memburu tumbal”

Ganas terik menyulut fatamorgana.

Ilusi bertebaran menerkam segalanya–tersandera segalanya, ia bengis seperti seperti serigala..

Mama, aku tengah memilih JALANAN sebagai arena.

Tempat topeng topeng angkuh tertancap menebar pesona.

Deru mesin, bising, isak tangis menggelegar juga ketimpangan.

Mereka, menarik upeti dari dapur dapur kumuh hingga pasar yang pungli, di pabrik pabrik industri, hingga di kampus kampus negeri.

Tak ada cela dan jeda terlewati.

Derap lars mengkilap rapi berbaris.

Jauh dari barak, rakus mengawasi.

Mama, tiap jengkal tanah dan air diklaim sang jendral.

Suara suara terpenjara, dibungkam, ditusuk-tusuk sepi terkapar.

Hakim jaksa berzirah baja bak prajurit, berbaris rapi bersama prajurit.

Satu komando menghentak seantero negeri..!!

Tak ada hukum untuk si lemah.

Tak ada belas kasih.

Segalanya dijarah prajurit.

Mama, daun daun berguguran.

Hutan dilucuti benteng benteng bercerobong asap.

Dokar-dokar tanpa kuda berhamburan mengemas harta jarahan.

Mama,Aku dan segala harap tengah menepi pada jalanan, ARENA si ANDRE YUNUS disiram AIR KERAS.

Ada prajurit, banyak prajurit

(Jumat, 17 April 2026).