Ternate, Maluku Utara — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Qubrah A’yun Frozzen Food, Irna Rasid, menilai biaya sewa stan Festival Legu Tara No Ate 2026 sebesar Rp 1,5 juta sebanding dengan fasilitas yang disediakan panitia, Penataan lokasi yang lebih teratur turut membuka peluang bagi pedagang untuk meningkatkan penjualan.
Irna Rasid (39), saat ditemui Baperone.com kemarin malam di stan miliknya pada Rabu, (21/10/206), menjelaskan biaya sewa itu mencakup tenda, listrik, pengelolaan sampah, serta keamanan. Kelengkapan fasilitas menjadi pertimbangan bagi pelaku UMKM yang memasarkan produk selama festival berlangsung.
“Kalau saya pribadi ya, kalau 1.500.000 itu sudah standar sih. Karena orang sudah dapat tenda, listrik, keamanan, dan pastinya itu barang-barang kan aman ya. Kalau pengalaman tahun lalu kan, satu juta itu kan dong (Mereka Panitia) belum lengkapi dengan keamanan.” Imbuhnya
Ia membandingkan penyelenggaraan tahun ini dengan festival sebelumnya. Menurut Irna, penataan stan yang lebih rapi memberi ruang bagi pedagang untuk menjangkau pembeli. Pada tahun lalu, banyaknya penjual yang masuk membuat peserta kesulitan mencapai target penjualan.
“Iya, tahun lalu, begitu. Nah, mungkin dari pengalaman yang sebelumnya, sekarang kan penataannya cukup rapi, nih. Kalau dulu yang diberikan itu kan semua penjual bisa masuk, akhirnya dong (mereka) Panitia yang bersewa tenda itu, Dong (Mereka/UMKM) tak bisa capai target yang dong targetkan.”
Dari sisi pendapatan, Irna mengaku hasil penjualan pada hari pertama penyelenggaraan tahun ini sudah mampu menutupi biaya sewa stan. Durasi festival selama sembilan hari juga memberikan kesempatan bagi pedagang untuk memperoleh pemasukan lebih besar.
“Tapi kalau untuk yang UMKM ini, yang tahun ini, alhamdulillah sih, dari hari pertama, orang sudah bisa menutupi biaya sewa, begitu. baru ini kan lama, durasinya juga lama, sampai 9 hari.”
Irna mengungkapkan omzet harian usahanya bisa mencapai Rp 1 juta, bahkan lebih. Kondisi itu membuat biaya sewa stan terasa lebih ringan, terlebih peserta juga dapat menikmati hiburan selama festival.
“Kalau kan paling kecil itu kan satu hari satu juta, ya. Tapi kan alhamdulillah kan, hampir setiap hari lebih, ya. Barulah Rp1.500.000. Berarti dikasih kali 8, enggak? Lumayan, kan? Lumayan banget ya, kalau menurut saya. Terus lalukan , dong sudah dapat hiburan gratis lagi.”
Bagi Irna, keikutsertaan dalam Legu Tara No Ate 2026 bukan hanya untuk mengejar penjualan, Ia memanfaatkan kegiatan itu sebagai sarana memperkenalkan merek dan produk Ayun Frozen Food kepada masyarakat.
“kalau saya kan lebih fokus ke branding, ya. Maksudnya branding tong (Kami) punya produk, MC Legu Tara No Ate juga sering mengenalkan tong punya usaha sama produk ke masyarakat.”
Irna menjelaskan, Ayun Frozen Food telah memiliki rumah produksi sendiri, Usahanya juga mengantongi legalitas halal, izin edar, serta sertifikat pendukung untuk produk makanan beku.
“Jadi saya punya legalitas halal, izin edar, sama sertifikat lain-lain yang mendukung tentang frozen food, Saya usaha frozen food itu sudah 4 tahun,Tapi yang serius itu baru sekitar dua-dua tahun belakangan ini.”
Irna bahkan, mengajak masyarakat mengunjungi stan Ayun Frozen Food selama Festival Legu Tara No Ate 2026 untuk mengenal lebih dekat produk makanan beku yang ditawarkan sekaligus mendukung peperkembangan usaha UMKM lokal.(*)

Tinggalkan Balasan