Oleh : Sudarman M N Tinamba
Awal Oktober, dua ribu dua puluh enam, musim kemarau berkepanjangan dari bulan-bulan sebelumnya. Langit berwarna putih keruh serupa kain kafan yang terpapar debu, kusam kecokelatan. Awal mulanya tak menyangka kalau menurut referensi berita yang aku baca dari dampak El Nino merupakan fenomena pemanasan dari perubahan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik tropis sehingga menggangu pola angin dan pembentukan awan cenderung menerima lebih sedikit hujan sehingga mengalami kemarau panjang.
Terjadinya kemarau bukan baru kali ini. Ya, berkisar sebelas tahun lalu, kejadian kemarau nyaris sama tapi kebakaran tidak separah ini seperti yang aku lihat. Dengan kemajuan teknologi yang berbasis media sosial; seperti kita menonton dan baca berita hutan Karhutla terbakar serupa api neraka yang mengerikan atau serupa ganasnya seekor harimau mencabik-cabik mangsanya.
Kemarau panjang mengakibatkan kebakaran, kekeringan, krisis air, dan juga petani gagal panen. Tak bisa merapal musibah datang seraya menganggap hal ini sepeleh setelah musim kemarau berganti musim hujan. Kita tidak lagi belajar dari sana seperti negara Australia yang memahami tragedi kemarau ekstrem di tahun 2002-2029, di kenal The Big Dry, malah peristiwa ini terus menjadi momok menakutkan untuk kemarau-kemarau yang akan datang.
Halmahera
Aku lihat sebagian kebakaran di tepih jalan raya akibat dari kemarau yang berkepanjangan. Semak belukar dan anak-anak pohon ikut terbakar dari ganasnya api yang menjalar ke beberapa ratus kilometer hingga meluas ke dalam hutan. Aku tak bisa menyimpulkan tanpa bukti bahwa kebakaran karena ulah manusia yang membakar hutan atau kesengajaan seorang perokok telah membuang puntung rokok yang masih tersimpan sisa api ke rerumputan liar sehingga memicu kobaran api.
Itu saat aku mengendarai sepeda motor melintasi jalan raya Halmahera Timur, dengan memakai masker supaya mengindar terjalarnya ISPA. Sesekali melewati aspal datar, sesekali aspal menanjak jauh, lalu aspal turunan panjang. Sesekali juga melewati Site perusahaan tambang sebagai tempat penampungan stok tanah Ore berada di pesisir pantai, yang kemudian di angkut menggunakan tongkang untuk diseberangi menuju Halmahera Tengah, tempat produksi nikel.
Melewati kebun milik warga yang ditumbuhi deretan pohon-pohon kelapa dan beberapa pohon pala masih bertahan hidup dan juga beberapanya mati kekeringan. Semakin mengencang tarikan tuas gas dalam-dalam, kecepatan di enam puluh kilometer per jam di aspal datar, melaju, juga semakin mengurangi penurunan jarum spidometer ketika melihat papan nama beberapa meter dari pintu: “Hati-hati keluar masuk alat berat tambang.”
Sesaat melewati berapa meter lagi, aku menepih sepeda motor.
“Akak, bisa numpang di pos jaga,” kata seorang lelaki berseragam Brimob sedang berdiri. Memegang senjata laras panjang dengan popor lipat tersandung melintang di dadanya, terikat oleh tali yang melingkar bahunya.
“Tujuan ke mana,” katanya lagi.
“Buli, Abang.”
Aku mulai mengendarai sepeda motor.
“Abang, PAM di tambang,” tanyaku.
“Sebenarnya tugas di Mako Brimob Sofifi,” jawabnya. “Kemarin masyarakat demo jadi diarahkan ke sini.”
Perjalanan dari Maba Kota-Buli hanya bembutuhkan waktu beberapa menit, tak sampai sejam. Sebelumnya mengendarai seorang diri sehingga aku mengiyakan lelaki Brimob itu berada di belakang boncengan. Kami juga melewati beberapa area bekas kebakaran ekstrem dan di antara puing-puing itu, bara kecil masih bersembunyi dibalik arang memberi asap-asap tipis.
“Kebakaran ini kesangajaan orang, atau…,” tanyaku.
“Tidak, kemungkinan sesuatu terjadi seperti gesekan pohon. Kebakaran ini sudah terjadi berbulan-bulan.”
Aku terdiam.
“Lalu bagaimana kalau seluruh api ini tidak di padamkan.”
“Kalau harap pemadam kebakaran saja tidak cukup,” jawabnya. “Kebakaran teralu meluas dan tidak bisa dijangkau semua oleh air.”
Betapa aku turut prihatin pada kebakaran tak henti-henti, terus menyasar ke hutan luas yang belum tersentuh api. Melihat dengan mata seolah mengharapkan hujan segeralah turun.
“Kenapa bisa begitu.”
“Api ini, terbang-terbang,” jawabnya, “kebakaran di sini, lalu terjadi kebakaran di sana.”
Lelaki Brimob itu menjelaskan kalau angin membawa percikan api satu tempat ke tempat lain. Saat sepeda motor terus berjalan dan kami berpapasan dengan beberapa orang berseragam pemadam, berseragam Tentara dan Polisi, telah memadamkan api yang mampu dijangkau dengan air supaya api itu tidak merambat sampai ke kampung.
Di depan pos jaga, lelaki berseragam Brimob itu turun dan mengucapkan rasa terima kasihnya. Aku mengendarai lagi dan hanya beberapa ratus meter ke depan sudah mendapati rumah warga. Terpatri di benakku, “Seolah kebakaran hutan yang meluas itu, sebagian api besar dibiarkan begitu saja”. Kendatipun punya ruang gerak terbatas pada titik ketika air Pump Truck hanya dapat menjangkua api sebatas tepih jalan raya. Ironi lagi tidak ada Helikopter Water Bombing. Api di arah lain terus menjalar memakan badan hutan menciptakan kepulan asap tebal menyebar luas sampai ke pedesaan Buli-Maba Pura-Maba Kota.
Di Buli, sekolah-sekolah diliburkan barangkali seminggu. Tempat lain, para petugas kesehatan telah berdiri di perempatan jalan raya untuk bagi-bagi masker kepada orang-orang yang hendak lewat, termasuk aku sempat menghentikan sepeda motor sebentar untuk menerima tawaran masker gratis itu.
Beberapa hari berlalu, aku melihat isi dompet cukup untuk biaya perjalanan pulang, bersepeda motor melintasi jalan Halmahera, sebagaimana perjalanan Buli-Sofifi, lalu Ternate-Pulau Hiri.
Ternate
Media lokal merilis titik kebakaran beberapa hari lalu: kebakaran terjadi di belakang Tubo. Kobaran api ekstrem juga terjadi di tempat pembuangan akhir Buku Deru-Deru, Kelurahan Takome, menjalar luas nyaris sampai ke rumah warga Kelurahan Sulamadaha.
Setelah turun dari kapal Feri, masih membekas di benak tentang Halmahera yang aku tinggal tadi: “Seolah kebakaran hutan yang meluas itu, sebagian api besar dibiarkan begitu saja”. Yang tersisa batang-batang pohon menghitam, debu yang diterbangkan angin dan bau sangit menggantung di udara.
Ternate menyambutku dengan padatnya penduduk, kendaraan, dan nyala lampu-lampu Kota beragam warna. Inilah wajah Oktober, saat berapa hari di rumah, hujan deras mengguyur Ternate setelah melewati berbulan-bulan kemarau dan kekeringan. Hujan turun itu sebagai rahmat kuasa yang memberi napas tanah yang di landa kekeringan. Menyirami tanah hitam pekat usai kebakaran. Menyiram tanaman pala-cengkih terpapar gersang dan pengap nan nyaris mati karena kehilangan kelembapan.
Itu terjadi tidak lama, hujan sudah pergi dan belum kembali seolah tertahan El Nino.
Pulau Hiri
Ketika mau menyeberangi laut, dari kejahuan aku melihat Hiri di selimuti oleh asap seolah kehilangan kehijauan. Asap itu kiranya kiriman yang terbawa angin dari tempat kebakaran lain, meskipun sinar matahari tak terpapar panasnya yang membakar kulit dan semilir angin menciptakan nuansa di atas perahu kayu bermuatan puluhan orang itu nan kumeratapi langit mengharapkan turunnya hujan.
Di Faudu, nyaris sama pandangan menjauh bahwa Halmahera Barat juga tertutup asap tebal serupa lukisan cat air yang belum kering. Apalagi air minum bersumber dari hujan yang tertampung di bak penampungan warga telah menyusut jauh ke dasar lantai, sementara air PDAM sekadar digunakan untuk mandi, mencuci pakaian dan mencuci piring-gelas, tak bisa minum, terasa asin.
Betapa mengerikan kemarau yang pelan-pelan merubah pola hidup manusia. Aku melihat seorang ibu rumah tangga berjalan sambil menjinjing dua galon ukuran lima liter datang di rumah meminta air minum. Kemarau ini mengingatkan kita agar lebih ikhtiar dan berpikir secara logis. Bagi pengendara, tidak semberangan membuang api puntung rokok di rerumputan liar. Ini juga tentang krisis air hujan, juga tentang kekeringan dan penurunan pendapatan petani. Bila perlu ada jalan alternatif pemerintahan kecamatan untuk memecahkan masalah krisis air di kemarau panjang.(*)
Penulis tersebut pernah menulis karyanya yang berjudul “Secercah Kehidupan” dan karya beliau Selanjutnya Masih dalam proses terbit.

Tinggalkan Balasan