Oleh: Arafik A Rahman 

Mari kita ngopi di sela waktu mengantarkan senja. Ada banyak hal yang rumit di kehidupan ini, misalnya: banyak pekerjaan yang mungkin menumpuk, banyak jadwal agenda yang berbaris dan mungkin ada uang pinjaman yang nyaris belum dikembalikan. Tetapi hemat saya yang paling rumit dari semua itu adalah memahami diri kita dan orang-orang di sekitar.

Di tengah kehidupan sosial yang kian dipenuhi simbol dan pencitraan, manusia sering kali tampil tidak sebagaimana adanya. Senyum menjadi bahasa universal yang tampak tulus, tetapi tidak selalu jujur. Ia bisa menjadi cermin kebaikan, namun tak jarang pula menjadi tirai yang menutupi kebencian. Dalam realitas semacam ini, kita dihadapkan pada sebuah persoalan: bagaimana membaca manusia, mengenali siapa yang sungguh baik dan siapa yang sekadar tampak baik?

Rasio sebagai pisau analisis pertama. Ia bekerja dengan menimbang koherensi antara kata dan tindakan. Orang yang baik tidak hanya fasih dalam ucapan, tetapi juga teguh dalam perbuatan. Kebaikan bukanlah peristiwa sesaat, melainkan pola yang berulang. Dalam semangat ini, Immanuel Kant menegaskan bahwa nilai moral seseorang tidak terletak pada penampilan lahiriah, melainkan pada prinsip yang ia pegang secara konsisten.

Bahwa, rasio mengajarkan kita untuk tidak mudah terpesona oleh kesan, tetapi menguji karakter melalui jejak tindakan. Tetapi, kehidupan tidak selalu menyediakan data yang cukup bagi rasio untuk bekerja secara tuntas. Ada situasi di mana kepalsuan begitu rapi disusun, sehingga sulit dibuktikan secara langsung. Di sinilah firasat hadir sebagai pisau analisis kedua dengan mengandalkan kepekaan batin, sebuah kemampuan menangkap tanda-tanda halus yang tidak tertangkap oleh logika epistemik.

Alexis Carrel menyebutnya sebagai cara mengetahui tanpa proses penalaran yang tampak, suatu hasil dari pengalaman dan sensitivitas yang mengendap dalam diri manusia. Akan tetapi, firasat bukan tanpa risiko. Ia bisa menuntun, tetapi juga bisa menyesatkan. Perasaan tidak nyaman terhadap seseorang belum tentu merupakan tanda kebenaran; bisa jadi ia lahir dari prasangka atau pengalaman masa lalu yang belum selesai. Di titik inilah kehati-hatian menjadi penting.

Fakhr al-Din al-Razi mengingatkan bahwa apa yang muncul dari hati tetap harus ditimbang oleh akal dan nilai kebenaran yang lebih tinggi. Karena itu, Firasat, bukanlah alat untuk menghakimi, melainkan isyarat untuk bersikap lebih waspada. Maka membaca kebaikan dan kebencian bukanlah perkara memilih antara rasio atau firasat, melainkan merawat keduanya dalam keseimbangan. Rasio menjaga kita dari penilaian yang gegabah, sementara firasat menyelamatkan kita dari kelengahan yang naif.

Keduanya bekerja sebagai dua mata yang saling melengkapi yang satu melihat apa yang tampak, yang lain merasakan apa yang tersembunyi. Dengan demikian, dunia mungkin akan selalu dipenuhi oleh senyum yang ambigu. Namun di situlah kedewasaan kita diuji: bukan pada kemampuan kita menghakimi orang lain secara cepat, tetapi pada kecermatan membaca, kesabaran menilai dan kebijaksanaan menjaga diri.

Sebab tidak semua yang tampak baik adalah kebaikan dan tidak semua yang tersembunyi adalah kebencian tetapi di antara keduanya, selalu ada tanda-tanda yang bisa dibaca, bagi mereka yang mau berpikir jernih dan merasa dengan hati yang terlatih. Sebagaimana dikatakan oleh Friedrich Nietzsche: “Apa yang dilakukan karena cinta selalu terjadi di luar takaran baik dan buruk.”

Adalah sebuah pengingat bahwa nilai atas kebaikan sering kali lebih mahal daripada sekadar hitungan penilaian manusia.(*)


Artikel ini ditulis langsung oleh Arafik A Rahman yang biasa dipanggil Bung Opickh, Beliau juga merupakan penulis Buku di Maluku-Utara.