Oleh:(Tim Media)
Di sebuah kampung pesisir yang tenang di Pulau Hiri, tepatnya di Togolobe, perjalanan hidup itu dimulai, tanpa gemuruh, tanpa sorotan. Ardian Kader lahir pada Juni 1998 di Marikurubu, Ternate Tengah. Ia tumbuh dalam kesederhanaan, sebagai anak pertama dari dua bersaudara, dari pasangan Kader Dero dan Ratni Yusuf. Namun, dari ruang kecil itulah, langkah-langkah besar mulai disusun. Dari titik ini pula, kita bisa mulai membaca bagaimana sosok seperti Ardian menjadi representasi alternatif bagi arah baru KNPI Kota Ternate—sebuah organisasi yang selama ini kerap terjebak antara idealisme dan kepentingan.
Ardian yang kerap disapa “Rian Momole” adalah nama yang familiar di gerakan mahasiswa dan organisasi sosial politik. Bagi Ardian, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat dikenal, melainkan siapa yang paling konsisten berjalan.Ia memegang satu prinsip sederhana menurutnya: “Kehebatan tidak harus mencari pengakuan dari orang lain, cukup berbuat dengan sebatas kemampuan Anda, kelak Anda akan terlihat mahal di mata orang.” Prinsip ini bukan sekadar kata-kata, melainkan arah hidup yang ia jalani. Dan jika prinsip ini ditarik ke dalam konteks KNPI, maka pertanyaannya menjadi tajam: apakah KNPI hari ini masih menghargai konsistensi, atau justru lebih memuja popularitas?
Menapaki Jalan Pendidikan
Perjalanan pendidikannya dimulai pada tahun 2004 di SD Negeri Togolobe, Kecamatan Pulau Hiri. Di sana, ia mengenal dunia belajar dalam keterbatasan fasilitas, namun kaya akan nilai kebersamaan. Tahun 2010, ia menuntaskan pendidikan dasarnya dan melanjutkan ke MTs Negeri 427 Ternate hingga lulus pada 2013.
Tak berhenti di situ, Ardian melanjutkan pendidikan ke SMA Mafakati Kota Ternate dan menyelesaikannya pada 2016. Pilihannya untuk masuk ke dunia pendidikan semakin matang ketika ia melanjutkan studi di Universitas Khairun Ternate, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dengan jurusan Ilmu Sosial dan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
Di bangku kuliah inilah, Ardian tidak hanya belajar teori, tetapi juga mulai membangun kesadaran kritis terhadap realitas sosial dan politik di sekitarnya. Kesadaran yang seharusnya menjadi fondasi dasar bagi setiap kader KNPI—bahwa organisasi kepemudaan tidak boleh steril dari realitas, tetapi harus lahir dari pergulatan dengan kenyataan itu sendiri.
Dari Aktivis ke Penggerak
Jika pendidikan membentuk cara berpikirnya, maka organisasi membentuk keberaniannya. Sejak muda, Ardian sudah terlibat aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa dan organisasi sosial-politik.
Ia pernah menjadi Ketua Komunitas Eurecha (2015–2016), sebuah ruang belajar alternatif yang mempertemukan gagasan dan aksi. Kemudian, ia memimpin Gerakan Aksi Mahasiswa Civic Hukum PPKN (2017–2018), yang menjadi wadah konsolidasi mahasiswa dalam isu-isu kebijakan publik.
Langkahnya semakin luas ketika dipercaya sebagai Koordinator Distrik Unkhair Samurai Maluku Utara (2017–2019), hingga kemudian menduduki posisi strategis sebagai Ketua Menteri BEM FKIP (2018–2019) dan mencapai puncaknya sebagai Presiden BEM FKIP Universitas Khairun (2019–2020).
Namun bagi Ardian, jabatan bukan tujuan. Ia terus bergerak, menjadi Ketua Kaderisasi Pusmat Kota Ternate (2018–2020), Koordinator Agitasi dan Propaganda KPP Samurai Maluku Utara (2019–2021), hingga Ketua Kebijakan Publik Pusmat (2020–2022). Puncak konsolidasi gerakan itu ia jalani saat menjadi Koordinator Presidium Samurai Maluku Utara (2021–2023).
Semasa bermahasiswa ia juga eksis di jalanan, turut terlibat dalam aksi demonstrasi menyuarakan problem sosial. Ia pernah menjadi Koordinator Aksi “Masyarakat Adat Pulau Hiri” di tahun 2018 dan dipercayakan sebagai Koordinator Front “Maluku Utara Bergerak” (MABAR) tahun 2020 terkait penolakan UU Omnibus Law. Ia juga menjadi Koordinator Front “Komite BBM” yang berjuang bersama masyarakat Maluku Utara pada tahun 2021 dan 2022, dan sekarang masih sebagai Koordinator “Aliansi Masyarakat Pulau Hiri” (AMPUH).
Perjalanan ini menunjukkan satu hal: Ardian tidak sekadar hadir dalam organisasi, tetapi menjadi bagian dari denyut perubahan itu sendiri. Dan di titik ini, KNPI seharusnya belajar—bahwa kader sejati bukan mereka yang hanya hadir di forum, tetapi mereka yang hadir di tengah konflik sosial.
Mengabdi di Tengah Masyarakat
Selepas fase aktivisme kampus, Ardian tidak memilih menjauh dari publik. Ia justru masuk lebih dalam ke ruang pengabdian masyarakat, tahun 2024/2025, ia dipercaya sebagai Komisioner Panwascam Pulau Hiri, sebuah posisi strategis dalam menjaga kualitas demokrasi di tingkat lokal.
Tak berhenti di sana, ia juga menjadi Koordinator Aliansi Masyarakat Pulau Hiri (AMPUH), memperjuangkan berbagai isu sosial di wilayahnya. Tahun 2026, ia melanjutkan kiprahnya sebagai Wakil Ketua Harian II Generasi Muda Sultan Baabullah (GEMUSBA), sebuah organisasi yang mendorong peran pemuda dalam pembangunan berbasis nilai budaya.
Di sini, Ardian tidak hanya berbicara tentang perubahan—ia mengerjakannya. Sesuatu yang sering kali hilang dalam tubuh KNPI: kerja nyata di tengah masyarakat, bukan sekadar produksi wacana di ruang-ruang formal.
Jalan Sunyi yang Konsisten
Perjalanan Ardian Kader bukanlah kisah tentang popularitas yang instan. Ia adalah potret anak muda dari pinggiran yang memilih jalan sunyi: bekerja, belajar, dan bergerak tanpa banyak bicara.
Dari Togolobe, ia membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk berpikir besar. Dari ruang-ruang organisasi, ia menunjukkan bahwa perubahan tidak lahir dari wacana semata, tetapi dari kerja kolektif yang konsisten.
Dan dari prinsip hidup yang ia pegang, kita belajar satu hal: bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa keras ia meminta pengakuan, tetapi seberapa kuat ia membuktikan diri melalui tindakan.
Di tengah hiruk-pikuk politik dan sosial hari ini, Ardian Kader adalah pengingat bahwa ada mereka yang bekerja dalam diam, namun dampaknya perlahan membentuk arah perubahan.
KNPI di Persimpangan
Maka, membaca autobiografi dan political career Ardian Kader sejatinya adalah membaca cermin bagi KNPI Kota Ternate.Apakah organisasi ini masih menjadi rumah bagi kader-kader yang tumbuh dari proses panjang seperti Ardian? Ataukah ia telah berubah menjadi arena kompromi kepentingan, di mana rekam jejak kalah oleh kedekatan jaringan?
KNPI hari ini berada di persimpangan.Ia bisa tetap berjalan dalam pola lama elitis, transaksional, dan seremonial. Atau ia bisa kembali ke khitahnya sebagai laboratorium kaderisasi, tempat di mana pengalaman, integritas, dan keberpihakan sosial menjadi ukuran utama.
Jika KNPI memilih jalan kedua, maka figur seperti Ardian Kader bukan sekadar alternatif—ia adalah kebutuhan.
Sebab di tengah krisis kepercayaan terhadap organisasi kepemudaan, KNPI tidak membutuhkan tokoh yang hanya pandai berbicara, tetapi membutuhkan mereka yang telah teruji dalam diam, ditempa oleh realitas, dan setia pada kerja-kerja sosial.
Dan mungkin, dari jalan sunyi yang selama ini ia tempuh, Ardian Kader sedang menunjukkan satu hal yang sering dilupakan KNPI: bahwa kepemimpinan bukan soal siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling siap bekerja.(*)

Tinggalkan Balasan