Morotai — Pencarian Kamaludin Bungan alias Foni, nelayan Desa Sambiki Tua, Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai, memasuki hari kelima pada Senin, 21 September 2026. Foni hilang saat mencari ikan tuna di perairan Morotai Timur sejak Rabu, 16 September.

Basarnas, TNI-AL, Polairud, pemuda, serta warga Desa Sambiki Tua ikut dalam pencarian.Hingga hari kelima, keberadaan Foni belum ditemukan.

Ketua Pemuda Sambiki Tua, Alfahri, mempersoalkan keterbatasan armada yang digunakan dalam operasi pencarian, Ia bilang kapasitas perahu nelayan yang dipakai belum memadai untuk menghadapi kondisi laut saat ini.

“Basarnas, Polairut, TNI-AL dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) wajib memiliki armada untuk mendukung proses pencarian, anehnya Basarnas, Polairut dan TNI-AL yang datang ke perairan Desa Sambiki Tua dan sekitarnya untuk melakukan operasi pencarian dengan memakai perahu viber nelayan yang kapasitas 3GT, menurut kami itu tidak maksimal untuk melakukan pencarian dengan cuaca saat ini,” katanya, Senin, (21/9/2026).

Alfahri juga mengingatkan risiko bagi warga yang ikut melakukan pencarian. Menurut dia, keterbatasan armada dapat membahayakan tim pencari jika kondisi laut berubah.

“Hal ini kami hawatirkan jangan sampai nelayan yang hilang belum ditemukan, kejadian yang sama terjadi kepada warga yang melakukan pencarian (hilang). Ini semestinya menjadi perhatian khusus oleh pemerintah Kabupaten Pulau Morotai untuk mengadakan armada, agar Pemerintah Daerah tidak terkesan menunggu hasil penyumbang PAD yang cukup besar disektor perikanan,” ujar alfahri

Ia menilai pemerintah daerah perlu menjadikan keselamatan nelayan sebagai perhatian serius. Alfahri juga mengaitkan persoalan armada dengan besarnya kontribusi nelayan terhadap sektor perikanan di Morotai.

“Nelayan yang hilang di Pulau Morotai suda berulangkali, tentunya hal ini suda menjadi pelajaran untuk Pemerintah Dearah Khususnya DKP. Sumbangsi nelayan untuk meningkatkan PAD itu cukup besar disektor Perikanan, namun untuk mengadakan armda saja susah? Bagaimana nasib nelayan, kalau di kemudian hari terjadi musibah yang sama di nelayan lain tapi tidak ada armada yang memadai?,” imbuhnya

Ketua Pemuda Sambiki Tua, Alfahri.|Dok: Istimewa

Pemuda Desa Sambiki Tua ikut menggalang donasi untuk mendukung pencarian Foni, Alfahri menilai kondisi operasi pencarian perlu menjadi evaluasi bagi instansi terkait dan pemerintah daerah.

“Menurut kami Pemuda-Pemudi Desa Sambiki Tua, hal ini menjadi catatan penting untuk Basarnas, Polairut, TNI-AL, DKP dan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Kami pemuda tentunya kecewa dengan proses pencarian yang terkesen seakan formalitas saja, karna kapasitas armada yang tidak mendukung,” ungkapnya.

Pemuda juga telah berupaya menggalang donasi pencarian nelayan yang hilang, suadara kami Kamaludin Bungan alias Foni.

Kritik juga diarahkan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan mengenai dukungan bahan bakar minyak untuk operasi pencarian, Alfahri mempertanyakan peran pemerintah daerah dalam memastikan kebutuhan operasional tersedia.

“Kami kecewa dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan yang setingkat BBM, Kepala Dinas kelautan dan perikanan harus berkordinasi atau meminta ke pihak Supplier yang kami anggap itu usaha perseorangan, lalu dimana peran Pemerintah Daerah kalau setingkat BBM saja harus seperti itu, kami anggap sumbangsih nelayan selama ini tidak berbanding lurus dengan peran pemerintah,”tegasnya

Hingga Senin, 21 September 2026, pencarian terhadap Kamaludin Bungan alias Foni masih berlangsung.(*)